Selasa, 23 Mei 2017

Makalah pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani



PEMBAHARUAN JAMALUDDIN AL-AFGHANI
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Pemikiran Modern Dalam Islam
Dosen Pengampu : Ilyas Supena, M.Ag






           Disusun Oleh :
          Danik Indah Sari               (1401036016)

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016

PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Sebagaimana telah diketahui, bentura-benturan antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan ummat Islam bahwa mereka memang tertinggal jauh dari Eropa. Pada abad 19, dibanyak wilayah Islam (dunia Islam), seperti di benua Afrika, Timur Tengah dan India, bermunculan gerakan-gerakan pemurnian pembaharuan. Gerakan pembaharuan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memang tidak bias dipisahkan dengan politik
1.Timbulnya gerakan-gerakan tersebut, menurut Munawir Sjadzali, paling tidak dilatar belakangi oleh tiga hal
2.Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme (persatuan Islam sedunia) yang mula-mula di dengungkan oleh gerakan Wahabiah dan Sanusiyah
3. Namun gagasan ini baru disuarakan denagn lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897 M).
4. Ummat Islam menurutnya, harus meninggalkan perselisihan-perselisihan dan berjuang dibawah panji bersama. Akan tetapi, ia juga berusaha membangkitkan semangat local dan nasionalisme negeri-negeri Islam. Karena itu, Al-Afghani dikenal sebagai bapak nasionalisme dalam Islam.
B.   Rumusan Masalah
1. Bagaimana riwayat hidup Jamaluddin al-Afghani?
2. Apa saja usaha pembaruan Jamaluddin al-Afghani?
3. Apa saja karya Jamaluddin al-Afghani?



PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Jamaluddin al-Afghani
Nama lengkapnya Sayid Jamaluddin Al-Afghani, lahir di Asadabad pada tahun 1255 H/1838 M, wafat pada tahun 1315 H/ Tanggal 9 Maret 1897 di Istanbul. Gelar Sayid menunjukkan bahwa ia berasal dari Husain bin Abi Thalib. Disamping nama al-Afghani, ia juga dikenal dengan nama Asabadi. Nama Al-Afghani dinisbatkan kepada kota kelahirannya, ia lahir dari keluarga penganut Madzhab Hanafi.[1]
Tentang tempat kelahirannya terdapat dua persi. Menurut pengakuannya bahwa ia dilahirkan di As’adabad dekat kanar wilayah Kabul Afghanistan. Menurut pendapat yang lain ia lahir As’adabad dekat hamadan wilayah Persia. Al-Afghani mengaku orang Afghanistan untuk menyelamatkan diri dari kesewenang-wenangan penguasa Persia. Menurut Majid Fakhry, bahwa Al-Afghani dilahirkan di Asabadad Persia, kemudian hijrah dengan keluarganya ke Qazwin dan kemudian ke Teheran, disitu ia belajar dibawah asuhan Aqashid Shadiq, teologi Syiah yang sangat terkemuka saat itu Teheran. Ayahnya bernama Sayid Shaftar, satu diantara keturunan itu yang amat dihormati di negri Afghanistan. Silsilah keturunan itu ditengahnya bertemu degan perawi hadist yang masyhur yaitu Sayid Ali At-Turmudzi dan diantaranya samapailah kepada Husain Bin Abi Thalib.
Ali Rahnema mengemukakan bahwa taka da sumber primer yang mendukung bahwa tempat lahir atau besarnya Al-Afghan, tetapi banyak sumber yang mengatakan bahwa ia lahir dan mendapat pendidikan Syi’ah di Iran. Hal ini didukung dengan banyak tulisan tentang Al-Afghani yang memperlihatkan bahwa Al-Afghani mendapat pendidikan di Iran dan hamper pasti di kota-kota suci Syi’ah di Irak, dia piawai dalam filsafat islam dan dalam Syi’ah dalam madzhab Syaikhi yang merupakan ragam Syi’ah yang sangat filosofis pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas.
Al-Afghan dikenal dengan seorang banyak melakukan pengembaraan. Dari Teheran ia pindah ke Al-Najd di Irak, pusat studi keagamaan Syi’ah, disitulah ia menghabiskan waktunya selama empat puuh tahun sebagai murid Murtadha Al-Anshari, seorang teologi dan sarjana yang terkenal. Pada tahun 1853 ia melewat ke india, dimana ia diperkenalkan dengan studi-studi ilmu-ilmu Eropa. Ada waktu selanjutnya ia melakukan perlawatan ke berbagai Negara di dunia, seperti Hijaz, Messir, Yaman, Turki, Russia, Inggris, dan Perancis. Salah satu yang paling berkesan dari perjalanannya ini adalah kunjungan ke Messir pada tahun 1869 dan di negeri ini ia memulai memunculkan pemikiran pembaharuan.
Al-Afghani seorang refornis dan modernis, dikenal pula sebagai seorang yang pernah aktif dalam dunia politik. Hal ini dibuktikan pada tahun 1876 ia bergabung dengan para politikus di Mesirpada tahun 1879 membentuk suatu partai politik dengan nama Hizb al-Wathani (partai kebangsaan). Dengan partai in ia berusaha menanamkan kesadaran nasionalisme dalam diri orang-orang mesir. Al-Afghan juga diakui sebagai seorang filosof, jurnalis, dan sufi, namun yang lebih banyak dipublikasikan adalah sebagai seorang politikus.
Karena berbagai ide pembaruan yang dimunculkannya, maka ia sering mendapat tekanan bahakan dipenjara oleh para pengusaha yang tidak setuju terhadap ide yang diperjuangkannya. Hal itu menumbulkan adanya mitos diseputar kematiannya, bahwa ia meninggal akibat diracuni oleh Sultan. Namun bukti yang terdokumentasi dengan baik menyatakan bahwa Al-Afghani meninggal akibat penyakit kanker di dagunya dan pernah di operasi.
B.     Usaha Pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani
Salah satu tokoh gerakan modernism klasik yang berupaya meningkatkan standar moral dan intelektual umat islam dalam rangka menjawab bahaya ekspansionisme Barat adalah Jamaluddin al-Afghani (1255-1315 H/ 1839-1897 M). Walaupun ia sendiri tidak melakukan modernism intelektual, walaupun ia telah menggugah kaum muslimin untuk mengembangkan dan menyuburkan disiplin-disiplin filosofis dan ilmiah dengan memperluas kurikulum lembaga pendidikan dan melakukan pembaharuan pendidikan secara umum. Menurut al-Afghani, taka da satupun dalam prinsip-prinsip dasar islam yang tidak sesuai dengan akal atau ilmu pengetahuan. Pandangan al-Afghani ini bertujuan memperkuat dunia islam secara politik dalam menghadapi Barat. Dengan demikian, Jamaluddin al-Afghani merupakan orang pertama yang menegaskan bahwa penanaman disiplin-disiplin rasional perlu untuk membangun kembali kebudayaan dan religiusitas Islam, meskipun di mengemukakan ini dalam terminologi abad pertengahan.[2]
Dengan luasnya wawasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Al-Afghani yang didapatnya dari sejumlah gurunya dan banyaknya pengalaman yang ia dapatkan dari hasil perlawatannya ke berbagai wilayah di penjuru dunia, maka munculah ide dan kemauan yang sangat kuat untuk mengadakan pembaruan di dunia islam.
Salah satu latar belakang kultural yang mempengaruhi pemikiran Al-Afghan dalam menggagas ide pembaruan adalah keterpurukan dunia islam (umat islam) dalam berbagai aspek kehidupan, terjadi perpecahan atau desintegrasi hamper disemua wilayah kekuasaan islam, umat islam telah meninggalkan ajaran islam yang sebenarnya, kuat perpegang pada taklid, bersifat fatalistis dan meluapkankan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya kolonialisme dan imperialism yang dilakukan oleh dunia barat sepeti Inggris dan Rusia terhadap dunia islam. Pengaruh barat ini menimbulkan adanya kediktatoran dan depotisme oleh para raja dan sultan di dunia islam.
Gambaran kemunduran dan keterpurukan umat islam pada saat itu pernah dideskripsikan dalam sebuah tulisan dengan judul “Masa lalu umat dan masa lalu kininya, serta pengobatan bagi penyakit-penyakitnya” yang diterjemahkan dan diedit oleh Nurcholish Madjid dalam buku yang berjudul Khasanah Intelektual Islam. Dalam tulisan itu Al-Afghani menyebut bahwa umat islam pernah mengalami kemajuan dan kejayaan namun kondisi itu lenyap dan sirna setelah umat islam tidah memperpegang Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, secara konsekuen, hidup penuh dengan taklid dan dan mengikuti tahyul dan bid’ah.
Al-Afghani menggambarkan kondisi umat islam sebagai seorang yang terserang anyak penyakit. Oleh karena itu untuk dapat menyembuhkannya haruslah mengetahui macam penyakit yang dideritanya, kemudian memilih altenatif pengobatan dan usaha penyembuhan. Hal itu dinyatakannya tidaklah sesuatu hal yang mudah dan gampang dilakukan. Pada bagian akhir tulisan itu, Al-Afghani mengherankan atas ungkapan masyarakat bahwa prinsip-prinsip agama yang benar adalah hasil yang terbebas dari bid’ah hasil ciptaan (manusia),  maka akan tumbuh pada umat kekutan persatuan, keserasian kekompakan, serta sikap lebih mementingkan kehormatan (umat) diatas kepentingan hidup, membangkitnya untuk memiliki keluhuran budi, meluaskan ruang lingkup pengetahuan dan mengantarkan kepuncak peradaban yang tertinggi.
Usaha yang dilakukan Al-Afghani dalam mewujudkan pembaruan ialah menyebarkan ide-ide pembaruan kepada segenap lapisan umat. Usaha dimaksud dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: pertama, melalui pengajian yang diadakan dirumahnya di jalan Khan Halili yang dihadiri oleh para ulama terkemuka seperti Syekh Muhammad Abdullah, Syaikh Abdul Kairm Salman, Syekh Ibrahim al-laqani, Sa’ad Zaglul dan lain-lain. Denagn pebahasan kitab-kitab politik, tasawuf, logika, filsafat. Cara kedua melalui ceramah-ceramah dan diskusi yang sifatnya intelektual di frum persaudaraan, pada umumnya dihadiri oleh kalangan sastrawan, seniman, budayawan, politikus, dan agamawan, dengan pembahasan disekitar sastra dan perjuangan bangsa. Disini ia berusaha membelokkan arah orientasi sastra yang pada saat itu terarah pada keagungan dan gemerlapan kalangan atas (aristoktar) kearah kalangan bawah yaitu rakyat dengan segala penderitaan, keterbelakangan, dan kemiskinan.[3]
C.     Karya Jamaluddin Al-Afghani
Pada tahun 1883 ketika berada di Paris, Al-Afghani mendirikan suatu perkumpulan yang diberi nama al-Urwah al-Wusqa (Ikatan Yang Kuat) yang anggotanya terdiri atas orang-orang islam dari India, Mesir, Suriah, Afrika Utara, dan lain-lain. Perkumpulan bertujuan, antara lain memperkuat rasa persaudaraan islam, membela islam dan membawa umat islam kepada kemajuan. Sebagai sarana untuk menyampaikan ide-ide dan kegiatannya, Al-Afghani bersama Muhammad Abduh menerbitkan majalah berkala yang diberi nama al-Urwah al-Wusqa sama dengan nama organisasi persaudaraan Islam (Ikatan Yang Kuat). Majalah ini hanya berumur delapan bulan karena dunia barat melarang pengedaranya di negri-negri Islam. Majalah ini dinilai akan menimbulkan semangat dan persatuanorang-orang Islam.
Dianatara tulisan Al-Afghani dalam majalah al-‘Urwah al-Wusqa adalah membahas tentang beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan tema-tema pembaruan yang diperjuangkan, antara lain tentang:
1.      Berpegang dengan agama Allah dan tidak bercerai berai (Ali Imran: 103 dan 105)
2.      Jangan mengambil orang diluar islam untuk menjadi teman kepercayaan sendiri (Ali Imran: 118)
3.      Jangan taut mati karena mati pasti ditemui (An-Nisa: 78)
4.      Taatlah kepada Allah dan jangan bercerai berai (Al-Anfal: 46)
5.      Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka berusaha mengubahnya (al-ra’d:11)
6.      Orang yang beriman akan mendapan ujian keimanan (Al-Ankabut:2)
7.      Sunnatullah berlaku pada umat terdahulu dan sunnatullah tidak berubah (Al-Ahzab:62)
8.      Umat islam harus saling memperingatikarena peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman (Az-Zariyat:55)
9.        Bertawakal dan bertobat hanya kepada Allah (Al-Mumtahanah:4)
10.  Allah tidak akan mendzalimi manusia, kecuali mereka mendzalimi diri sendiri (al-Baqarah:57).
Usaha pembaruan yang dilakuan al-Afghani selain yang dkemukakan diatas adalah membuat karya tulis berupa buku atau artikel. Salah satu karya Al-Afghani yang berbentuk buku yang diterbitkan adalah Al-Radd’alaa al-Dahriyin yang aslinya ditulis dalam bahasa Persia.[4]



 
PENUTUP
a.       Kesimpulan

Nama lengkapnya Sayid Jamaluddin Al-Afghani, lahir di Asadabad pada tahun 1255 H/1838 M, wafat pada tahun 1315 H/ Tanggal 9 Maret 1897 di Istanbul. Gelas Sayid menunjukkan bahwa ia berasal dari Husain bin Abi Thalib.
 Dengan luasnya wawasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Al-Afghani yang didapatnya dari sejumlah gurunya dan banyaknya pengalaman yang ia dapatkan dari hasil perlawatannya ke berbagai wilayah di penjuru dunia, maka munculah ide dan kemauan yang sangat kuat untuk mengadakan pembaruan di dunia islam.
Dianatara tulisan Al-Afghani dalam majalah al-‘Urwah al-Wusqa adalah membahas tentang beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan tema-tema pembaruan yang diperjuangkan. Usaha pembaruan yang dilakuan al-Afghani selain yang dkemukakan diatas adalah membuat karya tulis berupa buku atau artikel.

   DAFTAR PUSTAKA

Hartono,Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali Press, 1986
Hamka, Said Djamaluddin Al-Afghani, Jakarta : Bulan Bintang, 1996
Supena,Ilyas, Dinamika Pemikiran ISLAM MODERN, Semarang : abshor, 2007
Mansur,Muhammad  Laily, Pemikiran Kalam Dalam Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1994


[1] Dick Hartono, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali Press, 1986, hal.298
[2] Ilyas Supena, Dinamika Pemikiran ISLAM MODERN, Semarang : abshor, 2007, hal. 36
[3] Muhammad  Laily Mansur, Pemikiran Kalam Dalam Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1994, hal. 90
[4] Hamka, Said Djamaluddin Al-Afghani, Jakarta : Bulan Bintang, 1996, hal.89