Rabu, 07 Juni 2017

Karakteristik Filsafat Islam



KARAKTERISTIK FILSAFAT ISLAM
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Bapak Kasmuri


         DisusunOleh :

                         1.      Danik Indah Sari                     (1401036016)
                         2.      ‘Ainy Nur Syarifah                 (1401036021)
                         3.      Irwan Habibil Wahib              (1401036073)



FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015


BAB I
PENDAHULUAN
A.         Latar Belakang
Filsafat adalah merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat mendasar, sehingga semua disiplin ilmu yang lain akan membutuhkan pijakan filsafat. Dengan demikian, kajian ilmiah yang terdapat dalam ilmu pengetahuan akan ditemukan hakikat, seluk beluk, dan sumber pengetahuan yang mendasarinya. Kita akan menemukan filsafat bersarang dimana – mana. Dalam ilmu pendidikan ada filsafat pendidikan, Dalam agama ada filsafat agama, sebagaimana dalam Islam ada filsafat Islam, dalam hukum ada filsafat hukum, dalam sejarah ada filsafat sejarah, dalam sosiologi ada pula filsafat social, dalam politik ada filsafat politik, dan dalam kehidupan sehari – hari pun ada filsafat kehidupan.
Pada dasarnya, filsafat mengajarkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan manusia sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk individu, makhluk social, dan makhluk tuhan yang untuk diaplikasikan dalam hidup.
Secara umum, studi filsafat bertujuan untuk menjadikan manusia yang susila. Orang yang susila dianggap sebagai ahli filsafat, ahli hidup, dan orang yang bijaksana. Sementara itu, tujuan khususnya adalah menjadikan manusia berilmu. Dalam hal ini ahli filsafat dipandang sebagai orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan yang selalu mencari kenyataan kebenaran dari semua problem pokok keilmuan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana karakteristik filsafat islam?
2.      Bagaimana perbedaan filsafat Islam dengan filsafat barat?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Karakteristik Filsafat Islam
Karakteristik merupakan sesuatu yang mengacu kepada karakter yang berisi nilai-nilai yang berkembang secara teratur. Filsafat Islam adalah berfikir secara sistematis dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Dengan kata lain filsafat yang berorientasi pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.
Tampilnya filsafat Islam di arena pemikiran merupakan hasil interaksi agama Islam dengan faktor ekstern. Faktor ekstern yang dimaksud adalah budaya dan tradisi non Islam yang sepanjang sejarah diwakili oleh Eropa dibelahan Barat, serta India, Iran, dan Cina di belahan Timur[1]
Kalau kita lacak dalan khazanah Islam, buku-buku yang menguraikan ihwal filsafat Islam, memang sudah cukup banyak ditulis. Akan tetapi hampir selalu saja terkesan adanya beberapa aspek yang terasa kurang puas. Akhirnya, setiap karya seperti itu memuat daftar panjang istilah-istilah filsafat Islam yang patut di dihargai dan harus apresiasi secara mendalam.
Haidar Bagir tidak mau ketinggalan, ia pernah menghadirkan sebuah karya yang dijuduli “Buku Saku Filsafat Islam” (2005), yang sekalipun dinamai “saku” namun buku tersebut cukup memadahi untuk mengantarkan kita memahami filsafat Islam secara holistik. Islam sebagai sebuah sumber peradaban, dipandang ikut meletakkan “prosesi batu pertama” bangunan budaya dan peradaban modern yang saat ini berkembang pesat di Barat. Di abad pertengahan itulah Islam merupakan juru ‘penyelamat’ bagi peradaban Yunani, Persia dan Romawi dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa dan tradisi Islam.
Kemajuan Islam era pertengahan tidak saja mewarisi pengetahuan Yunani-Romawi, akan tetapi telah memodifikasi dan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil usaha kreatif cendikiawan muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, al-Farabi, al-Razi dan setelahnya, selain mengadopsi kekayaan pengetahuan mereka, juga melahirkan teori dan pengetahuan orisinil yang sama sekali baru.
Pusat urat syarafnya berada di akademi terbesar pada masa itu, yaitu Akademi Jundi Shapur, di Persia bagian Tenggara. Bahkan bukan itu saja, setelah lahirnya Islam dan penaklukan Persia oleh orang-orang Arab, perkembangan kebudayaan terpenting dalam Islam, misalnya bidang sains, teknologi, matematika, logika, filsafat, kimia, musik, etika, geografi, bahkan teologi dan sastra, adalah kontribusi pemikir dan cendikiawan Persia yang pada permulaan Abad-abad Islam telah menulis dalam bahasa Arab dan atas nama Islam.
Filsafat Islam memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan tersendiri. Setidaknya, terdapat tiga karakteristik yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut sudah sering dikaji oleh para sarjana muslim[2]

Filsafat memang tidak bisa dihubungkan dengan ajektif tertentu, namun ngan ruang sejarah ada banyak variabel kultural yang saling tumpang tindih dan saling berkaitan satu dengan lain yang ikut mewarnai filsafat. Konsekuensinya,serasa mustahil sebuah pemikiran filsafat dapat berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur yang lain.[3]
Untuk mengetahui dan mengenal filsafat lebih jauh, maka kita harus mengetahui karakter filsafat yang dirumuskan pada empat macam. Yaitu:
1.     Skeptisis
Skeptisis  adalah sikap keragu-raguan terhadap suatu kebenaran sebelum memperoleh argumen yang kuat terhadap kebenaran tersebut. Dan sikap skeptisis ini dapat dikelompokkan  kepada tiga bagian, yaitu:
a)      Bersifat gradusi. Yaitu sikap ragu yang naik menjadi yakin.
b)      Bersifat degradasi. Yaitu sikap yakin yang turun menjadi ragu.
c)      Bersifat bertahan. Yaitu tetap pada posisi semula.
Skeptisisme yang dimaksud dalam filsafat ialah didalam bentuk yang pertama, yaitu graduasi.
Rene Descartes yang merupakan salah seorang tokoh filsafat dipandang  sebagai figur, dengan ucapannya, “cogito ergo sum” (saya berfikir maka saya ada). Kemudian Descartes menganjurkan agar setiap konsep / kebenaran, walau telah diketahui kebenarannya tetapi harus diragukan terlebih dahulu sebelum memperoleh argumentasi yang kuat terhadap kebenaran tersebut.
Oleh karena itulah sikap skeptisisme Descartes bersifat metodologis, yaitu secara metode, segala sesuatu harus diragukan terlebih dahulu untuk menganalisanya lebih dalam, sehingga memperoleh argumentasi tentang kebenaran sesuatu.
Dalam kaitannya dengan agama, skeptisisme memiliki makana eksklusif , yaitu bukan meragukan kebenaran ajaran agama. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama sendiri, melainkan meragukan kemampuan manusia dalam memperoleh kebenaran tersebut. Dengan kata lain, adanya kebenaran tidak diragukan, yang diragukan ialah kemampuan memperoleh kebenaran tersebut.[4]
2.        Komunalisme
Komunalisme berasal dari kata komunal yang berarti umum. Maksudnya ialah hasil pemikiran filsafat adalah milik masyarakat umum. Tidak memandang ras, kelas ekonomi, dan lain-lain. Misalnya, hasil pemikiran Yunani bisa dimanfaatkan oleh orang Asia, Eropa, Afrika, dan lain-lainnya. Terlepas dari sesuai atau tidaknya pemikiran tersebut  dengan situasi dan kondisi dimana filsafat itu dipraktikkan.
3.        Desintrestednes
 Berasal dari kata interest yang berarti kepentingan, kemudian diberi awalan dis yang berarti tidak. Disinterestedness berarti suatu kegiatan (aktifitas) kefilsafatan tidak dimotivasi dan tidak bertujuan untuk kepentingan tertentu.
 Jadi, seorang filsuf  adalah seorang pemikir bebas, sesuai apa adanya bukan bagaimana seharusnya. Disinilah keberadaan seorang filsuf diuji. Ia bertugas “menjelaskan dunia” atau bahkan “merubah dunia”. Dengan kata lain, filsuf  tidak berada pada status mempertahankan, melainkan menjelaskan dan merobahnya kepada kondisi ideal. Inilah pengertian filsafat sebagaimana yang dikemukakan oleh Radhakrisnan, seorang filsuf  India:
It’s task of philosophy not merely to reflect the spirit of the in which but to lead it forward
     (tugas filsafat bukan sekedar mencerminkan semangat masa dimana kita hidup, melainkan membimbingnya untuk maju). Kemudian dalam ungkapan yang lain, Karl Marx member tugas filsuf  untuk merubah dunia.[5]
            Seperti dalam ungkapannya:
The philosopher have only  interpered the world in differen way, but howefer is to change it
(tugas seorang filsuf tidak hanya sekedar menjelaskan dunia, melainkan sekaligus merubahnya).[6]
4.        Universalisme
Istilah universalisme berasal dari kata universal yang berarti menyeluruh. Yaitu berfilsafat adalah hak seluruh ummat manusia secara umum. Perbedaanya dengan komunalisme ialah pada isinya. Jika komunalisme mengandung makna bahwa isi / hasil temuan filsafat menjadi milik semua ummat manusia kapan dan dimana saja. Sedangkan universalisme berbicara dari segi hak.. yaitu semua manusia berhak melakukan kajian filsafat.
Keempat karakter ini dapat disimpulkan dengan untaian kata berikut:
Tanah tak bertuan, Bumi tak berbatas, laut tak berdalam, dan samudera tak bertepi”.
Dengan menerapkan karakter ini, seorang filsuf akan melahirkan sikap keutamaan dalam dirinya berupa kebijakan kedalam pemahaman dan kepuasan.[7]
B.     Perbedaan Filsafat Islam Dengan Filsafat Barat
Perbedaan isu-isu filsafat Islam dan Barat
1.      Isu-isu filsafat Islam
    1. Moral
Berbeda yang kami jelaskan pada filsafat moral dari barat yakni dari seorang filosof David Hume, yang akan dibahas berikut. Namun sekarang adalah pembahasan mengenai pandangan filsafat moral dari seorang filsafat Islam Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi (864-925M), yang lebih dikenal dengan Ar-Razi.
Ar-Razi, menjelaskan tentang filsafat moralnya itu dengan baik, ia menjelaskan tentang tindakan-tindakan, atau sifat-sifat buruk, seperti iri hati, dusta, dan ia juga menjelaskan tentang kebahagiaan, kesenangan dan yang lainya.
Ia dalam teorinya tentang kesenangan, menjelaskan bahwa kebahagiaan ialah kembalinya apa yang telah tersingkir dari kemudharatan, seperti orang yang meninggalkan tempat teduh menuju tempat yang terkena sinar matahari yang panas akan senang ketika kembali ketempat teduh.
Keseluruhan etikanya difokuskan pada himbauan akal yang mengontrol hawa nafsu, yaitu penting memerangi, dan menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Mungkin inilah perbedaanya dengan David Hume yang mengatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal. Sedangkan Ar-Razi yang sudah dikatakan diatas akal yang memfokuskan kajianya mengenai ini dengan himbauan akal. Dari sini kita sudah bisa menemukan perbedaanya antara David Hume dari filsafat Barat dan Ar-Razi dari filsafat Islam.
2.      Jiwa
Pada pembahasan jiwa kali ini mengenai pandangan filsafat Islam tentang jiwa, ada beberapa tokoh filosof yang kami sajikan salah satunya dari ikhwan Ash-Shafa.
Ikhwan Ash-Shafa juga mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur, yang pertama adalah tubuh yang bersifat materi yang terdiri dari air, tanah, api dan udara. Kemdian yang kedua adalah jiwa yang bersifat immateri. Masuknya jiwa kedalam tubuh yaitu karena jiwa melakukan kesalahan seperti Nabi Adam As dan Hawa. Karena kesalahan itu jiwa yang tadinya dialam rohani turun kebumi dan merasuk ketubuh, yang tadinya punya banyak pengetahuan karena masuk kedalam tubuh jiwa menjadi lupa, jadi mengetahui apa-apa. Yang ada hanyalah pengetahuan secara potensi. Namun karena jiwa memiliki tubuh jadi ia bisa kembali mendapatkan dan menerima pengetahuan secara actual.
Ketika jiwa itu kembali menerima dan mendapatkan pengetahuan dengan benar, jiwa manusia menjadi suci, dalam hal ini ia menyebutnya sebagai malaikat dalam potensi, kemudian ketika manusia mengalami kematian lepasnya jiwa dari tubuh, barulah jiwa mengaktual menjadi malaikat. Sebaliknya jika jiwa manusia kebanyaan dosa dan kotor, maka disebut setan dalam potensi, kemudian setelah mati barulah jiwa mengaktual menjadi setan.
Berbeda dengan Nasiruddin Ath-Thusi (1201M) yang membagi jiwa kedalam tiga bagian yaitu jiwa manusiawi, hewani, dan yang terakhir jiwa imajinatif. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal, dari sini ia membagi akal toeritis dan akal praktis. Akal teoritis merupakan potensialitas, yang perwujudanya adalah konsep yang menjadi nyata terlihat dan pengetahuan. Sedangkan akal praktis itu terkait dengan tindakan-tindakan yang disengaja atau tidak disengaja.
Jiwa imajinatif berkaitan dengan gambaran-gambaran rasa atau perasaan, yang mana jika ia disatukan dengan jiwa hewani yang terjadi adalah kehancuran karena jiwa hewani itu hanya mendorong kita akan kepuasan dan kesenangan (hawa atau nafsu). Namun jika disatukan dengan yang jiwa manusiawi maka akan akan ikut bergembira atau bersedih bersema jiwa itu.
Ar-Razi membagi tentang manusia itu badan dan roh atau jiwa, orang-orang yang mengatakan hal ini berbeda pendapat dalam penetapan spesifik ini:
a)      Empat macam komponen atau campuran yang kemudian mewujudkan badan ini.
b)      Maksudnya adalah darah.
c)      Roh yang lembut dan muncul disisi kiri dari hati, dan mengakses sel-sel keseluruh anggota badan.
d)     Roh yang naik didalam hati ke otak, kemudian membentuk proses yang selaras untuk menerima kekuatan menghafal dan berfikir dan mengingat.
e)      Fisik yang berbeda dengan badan yang dapat diraba ini yang bersifat tinggi, ringan, hidup, yang menyebar kesuluruh tubuh dan memberi pengaruhnya yang berupa rasa dan gerakan.
Bisa kita bandingkan dengan pembahasan jiwa yang dibahas Plato dengan teori jiwa tripatitnya yang kami bahas berikut, mungkin terlihat sama dengan milik At-Thusi namun dalam istilah berbeda, tapi Ath-Thusi sedikit lebih lengkap karena ia membagi lagi konsep jiwa manusiawinya yang dalam istilah pembahasan Plato disebut akal. Sedangkan Ikhwan Ash-Shafa agak sedikit sederhana. Dan Ar-Razi yang berbeda penjelasanya dan pembagianya, namun ada sedikit kesamaan.
1.      Kenabian
Banyak pandangan mengenai teori kenabian menurut beberapa filosof, beberapa teori ini beraneka ragamnya, dari mulai Ar-Razi, Al-Farabi, Ibn miskawih, sampai Nasiruddin At-Thusi. Kami mewakilkan teori kenabian berdasarkan para filosof ini.
Ar-Razi adalah seorang filsafat rational murni. Ia berpendapat bahwa manusia itu tidak butuh nabi dalam bukunya Naqd al-adyan au fi al-nubuwwah (kritik terhadap agama-agama atau kenabian) nabi tidak boleh atau tidak berhak mengklaim bahwa dirinya itu mempunyai keistimewaan, karena semua manusia dimana Tuhan itu adalah sama, yang membedakan adalah pendidikan dan perkembanganya. Setiap bangsa hanya percaya pada nabinya saja dan tidak mengakui nabi yang lain, dan fanatik terhadap agamanya, sehingga menimbulkan perpecahan dan kekacauan.
Mungkin karena pendapatnya yang ekstrim ini bukunya-bukunya dimusnahkan. Tapi perlu digaris bawahi bahwa ia adalah seorang filosof rasional murni. Banyak orang beranggapan bahwa Ar-Razi itu zindik bukan Islam. Menurut Abd al-Lathif Muhammada al-Abad, mereka tidak melihat karya-karyanya yang lain, Ar-Razi mengakui adanya Tuhan yang Maha Bijaksana dan hari akhir bahkan dalam kitabnya Sirr al asrar atau Bar’u al sa’an ia tidak lupa shalawat kepada nabi.
Al-Farabi dengan teori kenabianya itu karena termotivisir pemikiran filosof sebelumnya yang berpendapat bahwa manusia tidak butuh nabi, karena filosof juga bisa menangkap hal-hal yang diluar jangkauan indera dan sehingga dapat berhubungan dengan akal 10 (jibril).
Menurutnya manusia dapat berhubungan dengan akal Fa’al itu dengan dua cara: pertama penalaran, renungan pikiran dan kemudian yang kedua adalah imajinasi, intuisi atau ilham. Cara yang pertama itu hanya mungkin diraih oleh orang-orang pilihan yang sudah melatih akalnya, dalam hal ini kita sebut filosof. Sedangkan cara yang kedua itu hanya nabi yang bisa karena mempunyai daya intuisi yang tinggi, disamping itu nabi dianugerahi akal dengan kekuatan suci, dan nabi juga berhubungan dengan akal 10 secara langsung.
Al-Farabi mennjelaskan bahwa perbedaan antara filosof dan nabi itu adalah bahwa setiap nabi itu filosof, namun setiap filosof belum tentu nabi.
2.      Isu-isu filsafat Barat.
1.      Moral
David Hume (1711-1776) seorang tokoh utama empirisme, yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu atau pengetahuan diluar pengalaman. Dairi sini maka sudah tentu Hume menyankal segala masalah metafisika.
Mengenai masalah etika atau moral hume mengatakan bahwa tidak ada yang baik dan buruk, artinya dalam penilaian suatu kejadian atau tindakan itu pada dirinya tidak ada baik dan tidak ada buruk (jahat). Yang ada ada adalah penilaian dari emosi atau perasaan kita mengenai suatu kejadian itu. Contohnya adalah ketika ada seorang anak memukul ayahnya, dalam kejadian ini itu sesungguhnya tidak baik atau buruk, artinya baik dan buruk itu tidak kelihatan. Barulah ketika emosi atau perasaan kita bereaksi dengan spontan menilai ini seperti ini, atau itu seperti itu.
Hume menyatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal budi. Misalkan kita contohkan ketika kita marah pada seorang teman kita karena suatu hal, tentunya teman kita adalah objek sasaran kita, tapi kita malah menluapkan kemarahan kita dengan tindakan merusak tanaman atau memukul pohon, tentunya tindakan ini tidak rational. Atau ketika kita merasa takut setentgah mati ketika melihat bayangan yang besar, padahal itu hanyalah bayangan dari seseorang atau suatu benda, ini juga tidak rasional. Maka dari itu ia mengatakan bahwa pandangan moral itu tidak ada sangkut pautnya dengan akal. Kemudian mengenai penilaian-penilaian moral juga tidak ada hubunganya dengan akal. Nilai-nilai moral atau tindakan baik atau jahat itu tidak melekat pada sifat orang itu dan tindakanya, karena ini hanya merupakan reaksi dari pengamat yang menilainya.
2.      Jiwa
Plato mengamati bahwa manusia itu mempunyai esensi. Disamping tubuh (raga) manusia juga mempunyai jiwa, dan ini bukan merupakan hal yang sederhana. Manusia mempunyai tiga elmen, yang pertama adalah yang membedakan manusia dengan yang lainya yaitu akal untuk berfikir, dan kemampuan menggunakan bahasa, kemudian yang kedua adalah elmen rohaniah yaitu rasa benci, cinta, ambisi, semangat, kemarahan, melindungi diri dan yang lainya, kemudian yang terakhir yaitu yang ketiga adalah nafsu badaniah ang berupa dorongan untuk memuaskan hasrat, dan kebutuhan.
Plato menjelaskan ketiga elmen tersebut bahwa elmen pertama yaitu akal adalah tingkatan paling tinggi karena dapat menilai dan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena itu akal menduduki tingkatan pertama, kemudian tingkatan yang kedua itu adalah elmen rohaniah dam yang terakhir itu adalah hawa nafsu merupakan elemen pada tingkatan terendah. Teori ini disebut dengan teori jiwa tripatit.
Jadi bisa dilihat dari penjelasan singkat mengenai teori jiwa tripatit ini, kita bisa tarik kesimpulan karena kemampuan manusia dalam tingkah berfikir itu berbeda-beda, buktinya ada yang bisa menjadi dokter, filosof, bahkan tukang cuci dsb. Tergantung manusia itu sendiri menggunakan akalnya seberapa jauh. Begitu juga mengenai hawa nafsu dan kerohaniaan, manusia mempunyai kecendrungan berbeda, dan juga tingkatanya.[8]
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain.
a.       Filsfat yang merupakan sumber pemikiran ilmiah Yunani hanya didasarkan pada hipotesis-hipotesis dan pendapat-pendapat, sedangkan ilmu-ilmu islam mendasarkanpeyelidikan mereka atas dasar pengamatan dan percobaan.
b.      Rang-orang \yunani mengagap bahwa pengeahuan indrawi berkedudukan lebih rendah daripada rasio. Jadi, pengetahuan indrawi kurang dapat diandalkan sehingga mereka tidakmendirka laboratorium-laboratorium. Ilmuwan-ilmuwan muslim tetap mengandalkan pemikiran rasional, namun mereka melakukan pembuktian melalui pengamatan dan percobaan.oleh karenaitu mereka mereka mendirkan laboratorium-laboratorum.
c.       Orang-orang yunani hanya berfikir secara deduktif. Kaum muslimin diajari oleh Al Quran supaya berfikir induktif dngan perintah dengan memperhatikan alam sekitarnya.
d.      Ilmu-ilmu Yunani hanya sekadar sekumpulan informasi. Lmu-ilmu kaum muslimin merupakan keseluruhan pengetahuan yang berdasarkan hukum dan teori.
e.       Yunani dalam jangka waktu 12 abad hanyamelahirkan berapa gelintir ilmuwan saja, sedangkan islam hanya dengan 6 atau 7 abad saja telah melahirkan ribuan ilmuwan besar dan menjadi peletak dasarilmu-ilmu modern.
f.       Yunani hanyameninggalkan beberapa buah buku bernilai. Sedangkan islam telah meninggalkan beberapa ribuan karya tulis besar yang menjadi standar kajian ilmuwan eropa di perguruan tinggi (universitas) mereka sampai kini.[9]

















BAB III
PENUTUP
A.                 Kesimpulan
Filsafat adalah merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat mendasar, sehingga semua disiplin ilmu yang lain akan membutuhkan pijakan filsafat. Filsafat Islam adalah berfikir secara sistematis dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Dengan kata lain filsafat yang berorientasi pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.
Tampilnya filsafat Islam di arena pemikiran merupakan hasil interaksi agama Islam dengan faktor ekstern. Faktor ekstern yang dimaksud adalah budaya dan tradisi non Islam yang sepanjang sejarah diwakili oleh Eropa dibelahan Barat, serta India, Iran, dan Cina di belahan Timur. Karakter filsafat yang dirumuskan pada empat macam, yaitu:
a.        Skeptisis adalah sikap keragu-raguan terhadap suatu kebenaran sebelum memperoleh argumen yang kuat terhadap kebenaran tersebut.
b.      Komunalisme berasal dari kata komunal yang berarti umum. Maksudnya ialah hasil pemikiran filsafat adalah milik masyarakat umum. Tidak memandang ras, kelas ekonomi, dan lain-lain.
c.       Disinterestedness berarti suatu kegiatan (aktifitas) kefilsafatan tidak dimotivasi dan tidak bertujuan untuk kepentingan tertentu.
d.      Universalisme adalah berfilsafat adalah hak seluruh ummat manusia secara umum.
Perbedaan filsafat islam dengan filsafat barat ada dua, yang pertama meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ‘sudah ditemukan.

B.                 Kritik dan Saran
 Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari  bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang terkait dengan judul makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran serta masukan yang membangun senantiasa kami harapkan dan semoga kita bisa mengambil hikmah dan pembelajaran kali ini. Amin
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusunnya lebih-lebih kepada pembacanya.


[1] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Rajawali Press,1986) hal.78.

[2] http://uinsite.uin-malang.ac.id/blog/2011/02/karakteristik-filsafat-islam
[3] Ilyas  supena, Filsafat Islam, (Yogyakarta: Penerbit Ombak,2013) hal.33.
[4] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum, (Bandung: Penerbit Ciptapustaka Media,2005) hal.98

[5] Harry Hamersma, Tokoh – Tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta: Penerbit Gramedia, 1984) hal.145.
[6] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Rajawali Press, 1986) hal.87.

[7] Curt John Ducasse, Philosophi as a Science, (Londn,Cet.I 1941) hal. 188.

[9] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum, (Bandung: Penerbit Cipta pustaka Media, 2005) hal.123.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar